SWEET ATTACK page 3

18 Sep

Tags : fanfiction

Genre : Romance

Cast : Cho Kyuhyun

 

 

Cerita sebelumnya >>> Kyuhyun menoleh — memandang salah sekian hyung-nya itu. “Hyung… ponselku tertukar!!” pekiknya.

 

Semenit kemudian…

“Kamu itu bodoh atau polos sih?! Udah 3 hari… dan kamu baru tahu kalau ponselmu tertukar..,” seru seorang pria bertubuh gendut yang sedang memegang sebungkus snack bergambar dirinya sendiri.

“Ya~! Apa kau lupa… uri evil magnae kan selalu lupa kalau dia itu punya ponsel, yang dia ingat cuma game, game, dan game. Jadi wajar saja kalau dia baru sadar..,” bela sang leader grup, dengan nada menyindir.

“Lalu gimana dengan gadis yang kau tabrak itu?” tanya seseorang yang tiba-tiba menyembul keluar dari arah dapur dengan kostum celemek kotak-kotak penuh warna lengkap dengan pisau dapur di tangannya.

“Tidak ada kabar darinya,” jawab Kyuhyun, lemas.

“Gadis bodoh!!” gumam pria berwajah cantik, pelan. “Kalau begitu cepat kau telpon dia..,” ujarnya setengah menyuruh.

 

(Ai pov)

Ponsel itu akhirnya berdering juga. Sebuah alunan lagu lembut terdengar nyaring, keluar dari speaker ponsel silver itu. Aku melirik malas dari balik komikku — melihat siapa yang akhirnya bersedia menelpon si ponsel ‘mati’ ini. “Oh, ini kan…!!”. Mataku menatap kaget sederetan angka di layar ponsel yang terus berkedap-kedip itu. “Ini kan nomorku!!” pekikku seraya melempar komik ke atas kursi malasku. Secepat kilat, aku mengambil ponsel silver itu dan mengangkat panggilan masuk tersebut dengan kesal, karena berani-beraninya dia menggunakan ponselku. “Yeobeoseyo…!!”

“Yeobeoseyo..,” sahut seorang pria di seberang sana, yang tak lain dan tak bukan adalah Kyuhyun.

“Ponselku!!!” seruku langsung sesaat setelah mendengar sahutan jawaban dari pria itu, “Kembalikan ponselku, cepat,” seruku lagi dengan nada marah.

“Ya… kenapa kau malah marah-marah..?!! Seharusnya kau berterimakasih karena aku mau menghubungimu duluan,” balas pria itu tak kalah sinisnya.

“Tentu saja aku marah. Sudah 3 hari, aku tidak mendapatkan kabar tentang ponselku… dan kenapa kau seenaknya saja menggunakan ponselku?! Kau kira biaya telpon itu murah….”

“Lalu menurutmu aku harus menelpon dengan nomor siapa?! Kau pikir jika aku menelpon dengan nomor temanku, apa kau akan mengangkatnya?? Atau kenapa tidak kau saja yang menelpon ponselmu duluan?”.

“Ponselmu… kau mengunci layarnya dengan serangkaian kata sandi. Asal kau tahu saja, aku di sini tinggal sendirian!!”.

“Baiklah, sebaiknya kita selesaikan masalah ini secara langsung. Aku mau ponselku kembali tanpa cacat,” ujar pria itu mengakhiri perdebatan sengit kami.

“Ok! Kapan aku bisa mengambil ponselku lagi?”

“Nanina coffee shop, malam ini jam 8… kau tahu kan tempatnya?”

“Aku tahu. Ok malam ini jam 8… kau, jangan telat atau bahkan mencoba untuk kabur,” ujarku sinis dengan nada seolah ingin membunuhnya jika bertemu.

“Seharusnya yang bilang begitu itu a…,” ujar pria itu, terputus, tanpa sempat melanjutkan karena aku buru-buru mematikannya.

Jam 8 malam, Nanina coffee shop…

“Eoseo Oseyo (Selamat datang)~!!” ujar seorang pelayan berpakaian putih dengan celemek hitam di pinggang, tersenyum ramah, sambil membukakan pintu kaca kafe untuk Ai. Seraya membalas senyum ramah pelayan tadi, Ai buru-buru masuk ke dalam kafe dan tak lupa mengucapkan terimakasih padanya.

Saat itu kafe kebetulan sedang dalam keadaan sepi. Tak terlalu banyak tamu yang mampir ke kafe yang seluruh tembok bangunannya berhiasankan gambar-gambar kucing lucu. Ai berjalan gontai ke arah sebuah meja dekat jendela yang menghadap langsung ke jalanan. Tak lama setelah Ai duduk, seorang pelayan dengan rambut dikuncir kuda datang menghampiri Ai – membawakan menu ‘kebanggaan’ kafe itu. Tidak perlu waktu yang lama bagi seorang Ai memesan apa yang diinginkannya.

Keadaan yang tenang di dalam kafe ditambah alunan lagu secret admirer milik mocca menambah kesan romantis di malam itu. Terlihat Ai sangat menikmati ‘aroma’ melankolis bercampur keromantisan kafe itu, cukup untuk menenangkan jiwanya yang sedang dirundung api amarah. Dan sembari menutup matanya, kedua tangannya sibuk mengelus-elus pinggiran cangkir hot chocolate miliknya yang sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Jiwanya telah dibawa pergi ke alam lain — menyusuri setiap jejak langkah kenangan dirinya di Seoul. Tapi, lagi-lagi ponsel silver itu berdering — mengganggu. Dengan sebal Ai mengambil ponsel silver itu dari dalam tas kulit warna coklatnya dan mengangkatnya, “Yeobeoseyo….”

“Neo eodie isseoyo (Kamu ada dimana)?! Eotteon usseul ibgo isseoyo (Memakai baju seperti apa)?” tanya Kyuhyun sambil memutar sepasang matanya, mencari-cari sosok Ai di dalam kafe yang tak begitu ramai itu.

“Aku… gadis yang sedang duduk di meja dekat jendela, memakai jaket kulit sporty warna coklat gelap dan dress bunga-bunga selutut berwarna krem muda, rambut hitam diikat cepol ke atas. Ketemu kan?” jawabku, panjang kali lebar.

“Iya, aku sudah menemukanmu. Seorang gadis yang duduk sendirian dengan aura gelap dan mistis,” ujar Kyuhyun sekenanya, lalu menutup telponnya seraya berjalan menghampiri bangku Ai yang tak jauh dari tempatnya berdiri barusan.

Setibanya di situ, ditariknya sebuah kursi kayu, tepat dihadapan Ai.  Dengan muka tanpa senyum, Kyuhyun langsung meminta kembali ponsel yang ada digenggaman Ai saat itu. “Cepat, kemarikan ponselku. Aku tidak punya banyak wak…”. Tapi, ucapannya keburu terpotong karena kehadiran seorang pelayan wanita. Baru saja si pelayan membuka mulut, Kyuhyun langsung menyambar mengatakan, “Tidak, terimakasih”.

“Hei, tidak bisakah kau bersikap ramah pada orang lain?” ujar Ai sesaat setelah pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka, “Dan bisakah kau lepas topi baseballmu dan masker anehmu itu? Sangat mengganggu, tahu…,” sindirku.

Tapi, entah kerasukan setan apa, Kyuhyun dengan tenang tanpa banyak bicara langsung menuruti perkataan Ai. Dia secara perlahan membuka masker dan topi baseball kesayangannya itu — hanya menyisakan kacamata besar di wajah putih bersihnya. “Sekarang, bisakah kau mengembalikan ponselku?” tanya Kyuhyun, setelah meletakkan topi baseballnya di atas meja.

“Lalu bagaimana dengan biaya telpon tadi siang?? Kau harus bertanggung jawab karena sudah menggunakan ponselku tanpa ijin…,” ujarku mengalihkan pembicaraan.

“Kembalikan ponselku dulu dan aku akan mengganti biaya telpon tadi siang”.

Melihat mukanya yang serius, Ai sedikit percaya dengan ucapan pria berkacamata di hadapannya itu. Dengan hati-hati, dia menyerahkan ponsel ‘bencana’ ke pria itu lalu meraih ponselnya dari tangan pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. Setelah ponsel berada di tangannya, Kyuhyun sontak memeriksa setiap inchi ponselnya — meyakinkan diri bahwa tidak ada yang cacat dari ponselnya itu hingga beberapa menit berlalu. “Ok. Sesuai janjiku tadi, aku akan mengganti biaya telpon tadi siang itu,” ujar Kyuhyun memecah keheningan seraya merogoh saku tas ranselnya. “Ini…,” lanjut Kyuhyun, kali ini sambil meletakkan sejumlah uang ke atas meja dan menyodorkannya ke  Ai.

“Recehan??” seru Ai, kaget sekaligus takjub pada tingkah pria di hadapannya itu. Diangkatnya tinggi-tinggi koin-koin recehan itu lalu menjatuhkannya lagi ke atas meja hingga menimbulkan bunyi gemerincing. “Tunggu… recehan?!! Kau mengingatkanku pada sesosok pria tempo  hari…,” ujar Ai, mengingat kembali kenangan akan pria super pelit yang juga memberikannya beberapa keping uang receh di kafe ini, “Topi baseball, kacamata, uang receh dan ponsel… mungkinkah…,” lanjut Ai dengan suara tercekat.

Kyuhyun menatap bingung ke arah Ai. Dia pun berusaha mengikuti arah ucapan Ai sembari mengingat kembali kenangan tentang uang recehnya. “Akh… Kau!!!” pekik Kyuhyun, kaget, sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah Ai, “Gadis aneh yang tiba-tiba datang dan memintaku meminjamimu ponsel…,” lanjut Kyuhyun.

“Jadi… pria itu… kau!!” pekik Ai tak kalah kaget. “Tuhan ternyata mendengarkan do’aku…,” gumam Ai, pelan.

“Hah… aku tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu lagi.”

“Kalau begitu, ini sisa uang recehanmu yang kau pinjami padaku waktu itu,” kata Ai seraya merogoh dompet berisi kepingan uang receh dari Kyuhyun tempo hari, lalu meletakkannya ke atas meja. “Dan ditambah uang biaya telpon darimu ini… kurasa sudah lebih dari cukup,” lanjut Ai sambil menyodorkan semua kepingan uang receh kepada Kyuhyun.

“Apa maksudmu??”

Ai diam sesaat, tak langsung merespon pertanyaan Kyuhyun barusan. Dia justru membuang muka ke arah luar jendela — memilih untuk memperhatikan orang lalu lalang daripada menatap sosok seorang idola nasional Korea tersebut. Lama… diperhatikannya orang-orang Korea di luar sana, hingga akhirnya kedua manik matanya kembali tertuju pada sosok pria berkacamata yang ada di hadapannya itu. Dia menarik nafas dalam-dalam. Tak lama tangan kanannya memegang gagang cangkir yang berlukiskan bunga krisan lalu menyesap hot chocolate yang tinggal sedikit itu. Aura keheningan menyergap diantara mereka berdua.

“Lalu apa maksudmu dengan uang-uang receh ini?” hardik Kyuhyun memecah kebosanan dalam keheningan seraya menunjuk kepingan uang receh di atas meja.

“Mengembalikannya,” jawab Ai, singkat dan datar. Kemudian, dia memasukkan ponsel silver miliknya ke dalam tas kulit coklatnya — berdiri lalu melenggang pergi ke arah kasir, meninggalkan sosok Kyuhyun bersama seonggok kepingan uang receh di atas meja. Satu sama, batin Ai puas dari balik pintu kafe sambil merapatkan jaket kulitnya.

 

 

By Olipayoe as author

2 Tanggapan to “SWEET ATTACK page 3”

  1. sikesixe 10 November 2011 pada 10:23 #

    chingu…sweet attack page 4nya kapan??? di terusin ya chinggu, penasaran banget ma crita kelanjutanya…

    • olipayoe 10 November 2011 pada 18:10 #

      thanks udah mampir ke sini n baca FF-nya….lanjutan sweet attack page 4 nya udah keluar,,,^^;; silakan dibaca n dikomen ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: