#Jurnal 1 : Episode Terakhir

14 Okt

Ada banyak kisah yang tak terungkap karena tak pernah ditulis. Dan ada banyak rumor yang menyeruak kepermukaan tanpa diduga. Rumor. Tubuh ini berpikir bahwa itu seperti butiran-butiran debu yang akan menyakitkan kalau masuk mata. Kelilipan. 

Ada sebuah kalimat yang masih diingat sampai detik ini. Meski kalimat itu tak pernah diucapkan secara langsung, namun ada rasa sedikit sebal, kecewa dan lucu pada saat bersamaan. Rasa-rasanya ingin sekali menertawakan semua hal yang telah terjadi. Boleh kan?

Itu bukan … tapi ….

Kisah ini bagaikan tertulis di atas pasir pantai yang sedetik kemudian tersapu debur ombak. Hilang. Terhapus tanpa meninggalkan jejak. Hanya seuntai benang memori yang masih melilit otak. Kuat.

Kapan, bagaimana dan seperti apa… sangat sering sekali mempertanyakan hal itu. Dengan lembut menggugah kembali rasa yang masih mengambang. Tahu bahwa tak semuanya harus dibisikkan pada rumput yang menari bersama angin. Tidak semua realita dan rasa yang berkecamuk di dada juga harus dia ungkapkan dalam bentuk prasasti. Sadar, bahkan sangat sadar.

Lantas apakah tak boleh menulisnya?. Tak bolehkah jemari-jemari lentik ini menyentuh tuts-tuts huruf di keyboard laptopnya?. Tidak.. tentu saja boleh. Siapa yang akan melarangnya. Kisah ini sudah terlanjur ditulis di halaman pertama. Rasanya akan sangat janggal jika kisah ini tak memiliki akhir cerita, meski tak (selalu) indah. Layaknya sebuah mini drama, kisah ini hanya terdiri dari beberapa episode saja – mungkin masih bisa dihitung dengan 10 jari tangan tanpa harus mendapat bantuan jari-jari kaki. Terlalu sedikit, bukan. 

Dan episode terakhir dari kisah ini telah selesai sejak bulan lalu. September. Ada banyak rasa yang berkecamuk di dalam dada. Kesal. Marah. Kecewa. Bodoh. Sedih. Semua bercampur menjadi satu. Tak jelas. Meski begitu anehnya tak ada satu tetes air mata pun yang terjun bebas dari kedua mata kecil ini – padahal sudah mendengar puluhan kali lagu-lagu mellow. Sepertinya ada yang aneh dengan hormon air mata dan kesedihan ini.

Kini episode terakhir itu sudah lewat batas waktunya, hanya tinggal kenangan. Dan waktu sudah berjalan dengan baik (kembali ke titik awal). Terimakasih atas segala hal yang telah terjadi mulai dari episode awal hingga episode terakhir kemarin. Tapi jangan salah paham (lagi)…. ;P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: